Kamis, 11 April 2013

Kreativitas


Kebanyakan orang menghubungkan berpikir kreatif dengan hal-hal seperti penemuan-penemuan teknologi atau para pemenang hadiah Nobel. Memang betul, penciptaan ataupun penemuan para ahli adalah hasil dari berpikir kreatif. Akan tetapi, berpikir kreatif tak hanya diperuntukan bagi profesi-profesi tertentu, dan juga bukan hanya milik orang-orang yang luar biasa pintar.

Orang tua yang hanya mengenyam pendidikan SMP dan berpenghasilan pas-pasan berkeinginan untuk dapat menyekolahkan putranya hingga universitas. Seorang manajer penjualan mengembangkan suatu rencana untuk membuat pameran di beberapa lokasi yang strategis agar dikunjungi oleh banyak calon pembeli. Seorang ibu rumah tangga merombak sudut halaman rumahnya yang gersang menjadi sebuah taman mungil yang asri. Ini senua adalah hasil dari berpikir kreatif.

Mencari jawaban yang sederhana tetapi tepat; menyusun barang-barang agar memudahkan pengambilannya; membuat anak-anak bersikap jujur; semua ini merupakan berpikir kreatif.

Percaya bahwa suatu hal dapat dilaksanakan, akan membuka jalan bagi pemecahan persoalan secara kreatif. Percaya bahwa sesuatu tidak dapat dilaksanakan, merupakan suatu pemikiran yang destruktif. Ini berlaku untuk semua situasi, baik yang kecil maupun yang besar. Jika kita sering menggunakan kata “mustahil, tidak mungkin, tidak bisa”, maka itu semua akan menutup pikiran kita untuk berkreasi. Para pemimpin yang tidak percaya bahwa perdamaian dapat diwujudkan pasti akan gagal, karena pikirannya tertutup bagi cara-cara kreatif. Demikian juga halnya dengan Anda. Jika Anda percaya bahwa Anda dapat melaksanakan suatu tugas, maka akan muncul ide-ide kreatif dan cara-cara pemecahan masalah yang akan Anda hadapi.

“When you affirm big, believe big, and pray big, big things happen.” (Norman Vincent Peale)

Author: Mr. Happy S. Tjandra

Senin, 01 April 2013

Comfort Zone


Hidup nyaman dengan segala fasilitas yang sudah tersedia, segalanya berjalan lancar tanpa hambatan, tanpa problema, itulah yang didambakan manusia. Namun sayangnya itu hanya ada di “utopia”, yaitu suatu tempat nyaman yang hanya ada dalam ilusi seseorang. Kenyataannya, kita hidup didunia yang nyata, yang terkadang mengalami problematika kehidupan, dalam usaha kita, keluarga kita, ataupun hubungan kita dengan orang lain. Ada yang mudah diselesaikan, ada pula yang butuh perjuangan ekstra, bahkan mungkin ada juga yang sampai saat ini pun anda belum tahu bagaimana menyelesaikannya.

Seringkali kali ketika kita sudah hidup mapan (Sesuai dengan kriteria masing-masing), baik dalam segi karier, sosial, lingkungan, ataupun keuangan, kita mulai takut kenyamanan ini akan terganggu atau berkurang atau bahkan sirna sama sekali. Oleh karena itu, banyak orang yang tidak mau berubah, tidak berani melakukan hal-hal yang mengandung risiko tinggi. Kita mulai terbiasa dengan pola hidup kita yang sudah terbentuk dengan “Nyaman”. Memang hal ini adalah hak setiap orang, apakah mau terus menikmati “kawasan nyaman” tersebut atau masih memiliki keberanian melakukan hal-hal lain untuk aktualisasi diri.

Selagi ada kesempatan untuk bertumbuh secara mental, emosi, dan rohani, maka tak ada salahnya kalau kita keluar dari “kawasan Nyaman” tersebut. Berani melakukan hal-hal untuk pertumbuhan diri, sehingga hidup kita tidak seperti dalam kungkungan yang membelenggu potensi diri. Pada akhirnya, setelah sekian lama kita hidup di dunia ini, ada suatu pertanyaan paling dasar yang harus dijawab oleh setiap orang, yaitu ,”sudahkah kita menjadi insan yang lebih baik , yang telah memberikan dan mengembangkan segala potensi yang ada dalam diri kita yang telah Tuhan berikan kepada kita?

“I do the very best I know how the very best I can, and I mean to keep on doing so until the end” (Abraham Lincoln)